Posted by PT. Solid Gold Berjangka on Selasa, 15 November 2016
“Isu mendasarnya di sini adalah apakah Amerika punya kemauan politik untuk menghentikan kebijakannya yang bermusuhan terhadap Korea Utara. AS sejak lama mengatakan tidak akan menerima Korut yang memiliki senjata nuklir dan memberlakukan berbagai sanksi yang ketat terhadap Korut terkait keinginannya untuk memiliki teknologi nuklir.
Namun, menyusul kemenangan Trump, seorang pejabat senior menyatakan tidak peduli mengenai siapa presiden AS mendatang. Media pemerintah Korut ketika itu menyebut Trump seorang “politisi yang bijaksana” dan “berpandangan jauh” sebagai calon presiden.
” Selama kampanye presiden Donald Trump mengatakan pasukan AS bisa ditarik dari Korsel jika kedua negara tidak setuju dengan perjanjian yang lebih adil untuk mendukung tentara yang ditempatkan di sana. Selama masa kampanye presiden Amerika Serikat (AS), media pemerintah Korut banyak memberikan pujian kepada Donald Trump.
Perundingan enam pihak untuk melucuti program itu dengan imbalan pelonggaran sanksi-sanksi dan pemberian bantuan telah macet sejak 2009. Korut mendesak Trump untuk membantu mempersatukan kedua negara di semenanjung itu dengan menarik tentara AS.
"Kami tidak peduli mengenai siapa pun yang menjadi presiden Amerika,” kata Kim Yong Ho, direktur divisi urusan HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri Korea Utara kepada wartawan di PBB, Selasa 15 Oktober 2016.
Korut Minta China Berhenti Panggil Kim Jong-un 'Si Gendut' | PT. Solid Gold Berjangka
Termasuk pamannya sendiri yang dituding terlibat praktik korupsi, main perempuan, berjudi dan minum-minuman keras. Diketahui, Presiden Korut tersebut gemar mengeksekusi orang yang dianggapnya bersalah.
Namun yang paling sering mereka pakai adalah Kim Fatty III alias pewaris ketiga takhta dinasti Kim di Korut yang berbadan gemuk. Melansir Daily Star, Rabu (16/11/2016, para pejabat Korut yang geram mendesak pemerintah China untuk menghentikan olok-olok tersebut.
Kementerian Luar Negeri Korea Utara (Korut) melayangkan kecaman kepada otoritas Partai Komunis China atas kelakuan para pejabat dan media massa di China yang sering menjuluki pemimpin mereka, Kim Jong-un dengan sebutan “Si Gendut”. Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang yang dianggap bersalah telah berakhir dengan eksekusi di lapangan tembak militer.
Di samping itu, timbul kekhawatiran bahwa rezim Kim Jong-un akan turun tangan jika permintaan tersebut diabaikan. Dalam bahasa mandarin, marga Kim dibaca dengan Jin. Oleh karena itu, seringnya diktator Semenanjung Korea itu dijuluki Jin Pang Pang atau Kim Gendut.
Apabila masih ada yang melanggar, diharapkan pemerintah bisa menindak tegas mereka, baik yang berasal dari kalangan pejabat maupun media. Dalam bentuk tersopannya, mereka juga sering menyebut orang nomor satu di Pyongyang itu sebagai Jin San Fei atau Kim Generasi Ketiga.
Kim Jong Un Dekati Donald Trump Untuk Goyang Korea Selatan? | PT. Solid Gold Berjangka
Menurut Yong Ho, mereka tidak peduli siapa Presiden terpilih Amerika. Mereka hanya peduli pada ketentuan apakah Amerika akan menarik kebijakan bermusuhan dengan Korea Utara atau tidak. Pasalnya, selama ini Korea Utara memang kerap menuding Amerika dekat dengan Korea Selatan dan membantu menyiapkan perang dengan melakukan latihan militer gabungan. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan ada kemungkinan berbicara dengan Kim Jong Un untuk penghentian program nuklir di Pyongyang.
Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat rupanya tidak terlalu membawa pengaruh besar bagi Korea Utara. Hal ini diungkapkan oleh Kim Yong Ho, seorang diplomat senior di bidang HAM dan isu-isu kemanusiaan. Mereka diklaim akan membicarakan bagaimana kebijakan AS di tangan Donald Trump.
Amerika dan Tiongkok selaku sekutu Korea Utara telah melakukan negosiasi terkait rencana memberikan sanksi kepada Korea Utara karena telah melakukan uji coba nuklir kelima yang merupakan yang terbesar sekitar 2 bulan lalu. Oleh karena itu, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dikabarkan mulai mendekati Amerika sebagai upaya mencari taktik untuk mengalahkan Korea Selatan. Korea Utara bahkan dikabarkan telah mengirim diplomat senior bernama Choe Son Hui menuju Swiss diduga untuk bertemu dengan mantan pejabat Amerika Serikat.